Dalam beberapa dekade terakhir, ruang publik mengalami
transformasi besar. Dari alun-alun kota dan taman, bergeser ke media sosial dan
platform digital. Kini, kemunculan Metaverse membuka babak baru: ruang
publik digital yang imersif, di mana manusia tidak hanya berinteraksi lewat
teks atau layar dua dimensi, tetapi hadir secara virtual dalam satu ruang yang
sama.
Metaverse bukan sekadar teknologi hiburan. Ia berpotensi
menjadi ruang sosial, ekonomi, politik, dan budaya baru—tempat bekerja,
belajar, berdiskusi, hingga membangun identitas sosial. Pertanyaannya: apakah
Metaverse benar-benar bisa berfungsi sebagai ruang publik digital yang sehat,
inklusif, dan demokratis?
Apa Itu Ruang Publik Digital?
Secara klasik, ruang publik didefinisikan sebagai tempat
di mana warga dapat berkumpul, berinteraksi, mengekspresikan opini, dan
berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Di era digital, fungsi ini sebagian
besar diambil alih oleh media sosial seperti Twitter (X), Instagram, dan
TikTok.
Namun, ruang publik digital saat ini memiliki keterbatasan:
- Interaksi
berbasis layar 2D
- Algoritma
yang membentuk echo chamber
- Minimnya
sense of presence (kehadiran nyata)
Metaverse hadir dengan pendekatan berbeda: immersive,
real-time, dan embodied interaction, yang membuat interaksi digital terasa
lebih “hadir” dan sosial.
Metaverse sebagai Evolusi Ruang Publik
Metaverse menggabungkan beberapa teknologi utama:
- Virtual
Reality (VR)
- Augmented
Reality (AR)
- Spatial
Computing
- Real-time
networking
- Digital
identity & avatar
Dengan kombinasi ini, Metaverse menciptakan ruang bersama
(shared space) yang memungkinkan:
- Diskusi
publik dalam ruang virtual
- Event
sosial & budaya lintas negara
- Komunitas
berbasis minat, bukan lokasi geografis
- Partisipasi
aktif lewat avatar
Inilah yang membuat Metaverse sering disebut sebagai “public
square versi digital”.
Fungsi Ruang Publik di Metaverse
1. Interaksi Sosial & Komunitas
Di Metaverse, komunitas tidak lagi dibatasi oleh wilayah.
Pengguna dapat:
- Bertemu
dalam ruang virtual
- Menghadiri
konser, pameran, atau diskusi publik
- Membangun
komunitas global berbasis nilai & minat
Platform seperti VRChat, Horizon Worlds, dan Roblox
telah menjadi contoh awal bagaimana ruang virtual bisa menjadi tempat
bersosialisasi yang aktif.
2. Ekspresi Budaya & Identitas
Metaverse membuka ruang ekspresi baru:
- Avatar
sebagai identitas digital
- Fashion
digital & seni virtual
- Budaya
pop dan subkultur digital
Bagi generasi muda, terutama Gen Z, identitas digital sering
kali sama pentingnya dengan identitas fisik. Metaverse memperluas cara manusia menampilkan
diri dan berpartisipasi dalam budaya publik.
3. Partisipasi Publik & Diskursus
Dalam konteks ideal, Metaverse bisa:
- Menjadi
ruang diskusi publik
- Mendukung
town hall virtual
- Menjadi
medium edukasi dan demokrasi digital
Beberapa institusi bahkan mulai mengeksplorasi Metaverse
untuk:
- Simulasi
kebijakan publik
- Edukasi
kewarganegaraan
- Konsultasi
publik berbasis virtual
Tantangan: Siapa yang Mengontrol Ruang Publik Metaverse?
Meski menjanjikan, Metaverse sebagai ruang publik menghadapi
tantangan serius.
1. Kepemilikan Platform
Sebagian besar Metaverse saat ini dimiliki oleh korporasi
swasta. Ini memunculkan pertanyaan:
- Siapa
yang menentukan aturan?
- Siapa
yang mengontrol data?
- Apakah
kebebasan berekspresi benar-benar dijamin?
Tanpa tata kelola yang jelas, ruang publik digital berisiko
menjadi ruang komersial tertutup.
2. Algoritma & Moderasi
Algoritma menentukan:
- Apa
yang terlihat
- Siapa
yang didengar
- Konten
apa yang dipromosikan atau dibatasi
Dalam Metaverse, efek algoritma bisa lebih kuat karena
interaksi bersifat imersif dan emosional. Risiko seperti manipulasi sosial,
echo chamber, dan bias sistemik menjadi semakin kompleks.
3. Privasi & Keamanan Sosial
Metaverse mengumpulkan data yang jauh lebih sensitif:
- Gerakan
tubuh
- Ekspresi
wajah
- Pola
interaksi sosial
Tanpa perlindungan yang kuat, ruang publik Metaverse
berpotensi menjadi ruang pengawasan (surveillance space).
Metaverse: Ruang Publik atau Ruang Eksklusif?
Salah satu kritik terbesar adalah soal aksesibilitas.
Untuk masuk ke Metaverse secara penuh, pengguna sering membutuhkan:
- Perangkat
VR mahal
- Koneksi
internet cepat
- Literasi
digital tinggi
Jika tidak dikelola dengan baik, Metaverse bisa menciptakan kesenjangan
digital baru, di mana hanya kelompok tertentu yang bisa berpartisipasi
dalam ruang publik digital masa depan.
Menuju Ruang Publik Metaverse yang Sehat
Agar Metaverse benar-benar berfungsi sebagai ruang publik
digital, beberapa prinsip perlu diperhatikan:
- Transparansi
tata kelola
- Perlindungan
privasi & data pengguna
- Akses
yang inklusif & terjangkau
- Moderasi
komunitas berbasis nilai, bukan semata profit
- Kolaborasi
antara platform, pemerintah, dan masyarakat sipil
Metaverse tidak boleh hanya menjadi “mall virtual”, tetapi ruang
hidup digital yang adil dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Metaverse berpotensi menjadi ruang publik digital baru
yang melampaui media sosial konvensional. Dengan interaksi imersif, kehadiran
real-time, dan komunitas global, ia membuka cara baru manusia bersosialisasi
dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Namun, masa depan Metaverse sebagai ruang publik tidak
ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh nilai, regulasi, dan
pilihan kolektif kita. Apakah ia akan menjadi ruang demokratis yang
inklusif, atau sekadar ruang privat yang dikendalikan segelintir
pihak—jawabannya masih sedang dibentuk hari ini.
Referensi :
- World
Economic Forum – Defining the Metaverse
https://www.weforum.org/agenda/2022/05/what-is-the-metaverse/ - Harvard
Business Review – How the Metaverse Could Change the Way We Work
https://hbr.org/2022/03/how-the-metaverse-could-change-the-way-we-work - MIT
Technology Review – The Metaverse Is Not a Place, It’s a Moment
https://www.technologyreview.com/2021/10/19/1037542/metaverse-is-not-a-place/ - OECD
– Public Spaces in the Digital Age
https://www.oecd.org/digital/public-spaces-digital-age/ - Pew
Research Center – The Metaverse in 2040
https://www.pewresearch.org/internet/2022/06/30/the-metaverse-in-2040/