Ruang sosial virtual—mulai dari media sosial, platform game
online, hingga Metaverse—telah menjadi tempat manusia berinteraksi, bekerja,
berekspresi, dan membangun identitas digital. Namun, di balik kebebasan yang
tampak, muncul pertanyaan krusial: siapa sebenarnya yang mengontrol ruang
sosial virtual?
Kontrol atas ruang digital tidak hanya soal teknologi,
tetapi juga kekuasaan ekonomi, algoritma, regulasi, dan nilai-nilai sosial yang
tertanam dalam sistem. Artikel ini mengulas aktor-aktor utama yang membentuk
dan mengendalikan ruang sosial virtual serta implikasinya bagi masa depan
masyarakat digital.
Platform Teknologi sebagai Pemilik Infrastruktur
Perusahaan teknologi besar memegang peran dominan dalam
mengontrol ruang sosial virtual. Mereka memiliki:
- Infrastruktur
digital (server, cloud, engine virtual)
- Aturan
komunitas dan kebijakan konten
- Sistem
moderasi dan sanksi
- Akses
terhadap data pengguna
Dalam konteks Metaverse dan dunia virtual, kontrol ini
semakin luas karena platform tidak hanya mengatur konten, tetapi juga desain
ruang, interaksi avatar, dan ekonomi digital di dalamnya. Harvard Business
Review menyebut fenomena ini sebagai platform governance, di mana aturan
sosial dibentuk oleh entitas privat.
Algoritma: Pengendali Tak Terlihat
Di balik layar, algoritma berperan sebagai pengendali utama
pengalaman pengguna. Algoritma menentukan:
- Konten
apa yang muncul atau disembunyikan
- Interaksi
mana yang diprioritaskan
- Komunitas
mana yang tumbuh atau tenggelam
Dalam ruang sosial virtual, algoritma dapat memperkuat echo
chamber, mempercepat viralitas, atau bahkan memperbesar konflik sosial. Menurut
MIT Technology Review, algoritma bukanlah sistem netral, melainkan refleksi
dari tujuan bisnis dan nilai yang diprogramkan.
Peran Pemerintah & Regulasi
Meskipun platform memiliki kontrol besar, pemerintah tetap
memegang peran penting melalui regulasi. Beberapa bentuk kontrol negara
meliputi:
- Perlindungan
data dan privasi
- Regulasi
konten berbahaya dan ujaran kebencian
- Aturan
persaingan usaha digital
- Perlindungan
anak dan kelompok rentan
Namun, tantangan muncul karena ruang sosial virtual bersifat
lintas negara. World Economic Forum menekankan perlunya kerja sama global untuk
menciptakan tata kelola ruang digital yang adil dan berkelanjutan.
Ekonomi Digital & Kepentingan Bisnis
Kontrol atas ruang sosial virtual juga sangat dipengaruhi
oleh kepentingan ekonomi. Model bisnis berbasis iklan, data, dan ekonomi
virtual mendorong platform untuk:
- Memaksimalkan
waktu layar pengguna
- Mengoptimalkan
engagement
- Mengarahkan
perilaku konsumsi digital
Dalam Metaverse, kontrol ekonomi menjadi lebih kompleks
karena melibatkan aset digital, mata uang virtual, dan kepemilikan digital.
OECD menyoroti bahwa tanpa tata kelola yang jelas, ekonomi virtual berisiko
menciptakan ketimpangan baru.
Apakah Pengguna Punya Kendali?
Meskipun sering dianggap pasif, pengguna sebenarnya memiliki
peran penting dalam membentuk ruang sosial virtual melalui:
- Pola
penggunaan dan interaksi
- Tekanan
publik dan gerakan digital
- Pilihan
platform dan komunitas
Namun, ketimpangan informasi dan kekuatan antara pengguna
dan platform membuat kontrol ini seringkali terbatas. Literasi digital menjadi
kunci agar pengguna dapat lebih sadar dan kritis terhadap mekanisme kontrol
digital.
Menuju Tata Kelola Ruang Virtual yang Lebih Demokratis
Berbagai pihak mendorong konsep digital commons dan decentralized
governance sebagai alternatif kontrol terpusat. Pendekatan ini mencakup:
- Transparansi
algoritma
- Partisipasi
komunitas dalam pengambilan keputusan
- Teknologi
terdesentralisasi
- Standar
etika global untuk ruang virtual
Masa depan ruang sosial virtual akan sangat ditentukan oleh
keseimbangan antara inovasi teknologi, kepentingan bisnis, hak pengguna, dan
regulasi publik.
Kesimpulan
Kontrol atas ruang sosial virtual bukanlah milik satu pihak
tunggal. Ia merupakan hasil interaksi kompleks antara platform teknologi,
algoritma, pemerintah, kepentingan ekonomi, dan perilaku pengguna.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengontrol, tetapi bagaimana kontrol
itu dijalankan dan untuk kepentingan siapa.
Memahami dinamika ini menjadi langkah awal untuk menciptakan
ruang digital yang lebih adil, aman, dan inklusif di masa depan.
Referensi :
- Harvard
Business Review – Platform Governance
https://hbr.org/2021/01/what-platforms-need-to-do-to-regain-trust
- MIT
Technology Review – How Algorithms Shape Society
https://www.technologyreview.com/2021/10/05/1036589/algorithms-social-media-power/
- World
Economic Forum – Global Governance of Digital Platforms
https://www.weforum.org/agenda/2022/01/digital-platforms-global-governance/
- OECD –
Policy Framework for Digital Platforms
https://www.oecd.org/digital/consumer/platform-economy/
- United
Nations – Digital Cooperation Roadmap
https://www.un.org/en/content/digital-cooperation-roadmap/