Bagi banyak orang, internet terasa seperti sesuatu yang tidak
berwujud. Mengirim pesan, menonton video, menyimpan file di cloud, hingga
menggunakan AI — semuanya terjadi “di layar”, seolah tanpa dampak fisik apa
pun. Namun kenyataannya, dunia digital sangat bergantung pada infrastruktur
fisik yang besar, kompleks, dan boros energi.
Server, data center, jaringan kabel bawah laut, menara
telekomunikasi, hingga perangkat yang kita gunakan sehari-hari — semuanya
membutuhkan listrik, pendingin, material, dan sumber daya alam. Akibatnya,
internet dan teknologi digital kini memiliki jejak karbon yang nyata dan
terus meningkat.
Di era di mana digitalisasi dianggap sebagai solusi
efisiensi, penting untuk bertanya: seberapa ramah lingkungan sebenarnya
dunia digital?
Apa Itu Jejak Karbon Teknologi Digital?
Jejak karbon teknologi digital adalah total emisi gas
rumah kaca yang dihasilkan dari seluruh siklus hidup teknologi digital,
meliputi:
- Produksi
perangkat (smartphone, laptop, server)
- Operasional
data center dan jaringan
- Konsumsi
energi saat penggunaan
- Limbah
elektronik (e-waste)
Menurut berbagai laporan internasional, sektor teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) menyumbang sekitar 3–4% emisi karbon global,
angka yang setara atau bahkan melebihi industri penerbangan global sebelum
pandemi.
Sumber Utama Jejak Karbon di Dunia Digital
1. Data Center: Jantung Internet yang Haus Energi
Setiap email, video streaming, transaksi digital, dan prompt
AI diproses di data center. Fasilitas ini beroperasi 24/7 dan
membutuhkan:
- Listrik
dalam jumlah besar
- Sistem
pendingin intensif
- Cadangan
energi untuk keandalan
Data center global mengonsumsi sekitar 1–2% listrik dunia,
dan angka ini diprediksi meningkat seiring pertumbuhan cloud computing, AI, dan
big data.
Masalahnya, banyak data center masih bergantung pada energi
fosil, terutama di wilayah dengan akses energi terbarukan yang terbatas.
2. Produksi Perangkat Digital
Jejak karbon terbesar perangkat digital justru sering
terjadi sebelum digunakan, yaitu saat produksi.
Proses manufaktur melibatkan:
- Penambangan
logam langka (lithium, cobalt, rare earth)
- Konsumsi
energi tinggi
- Rantai
pasok global yang panjang
Satu smartphone, misalnya, bisa menghasilkan puluhan
kilogram emisi CO? sebelum sampai ke tangan pengguna. Siklus ganti
perangkat yang cepat memperparah masalah ini.
3. Streaming, Cloud, dan Konsumsi Data
Aktivitas yang terlihat “ringan” seperti:
- Menonton
video HD
- Streaming
musik
- Video
call
- Backup
cloud
sebenarnya memicu lalu lintas data besar yang memerlukan
pemrosesan dan penyimpanan terus-menerus.
Streaming video menyumbang porsi signifikan dari lalu lintas
internet global. Semakin tinggi resolusi dan durasi, semakin besar pula energi
yang dibutuhkan.
4. AI, Machine Learning, dan Komputasi Intensif
Model AI modern membutuhkan:
- Pelatihan
dengan data dalam skala besar
- GPU
dan server berdaya tinggi
- Pendinginan
ekstra
Pelatihan satu model AI besar dapat menghasilkan emisi
karbon setara dengan ratusan penerbangan jarak jauh, terutama jika
menggunakan energi non-terbarukan.
Meski AI juga bisa membantu efisiensi lingkungan, tanpa
pengelolaan yang tepat, ia berpotensi menjadi kontributor emisi baru.
5. Limbah Elektronik (E-Waste)
Setiap tahun, dunia menghasilkan puluhan juta ton limbah
elektronik. Banyak perangkat digital:
- Sulit
didaur ulang
- Mengandung
bahan berbahaya
- Berakhir
di negara berkembang tanpa sistem pengolahan aman
E-waste tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga
kesehatan manusia.
Paradoks Digitalisasi & Lingkungan
Teknologi digital sering dipromosikan sebagai solusi ramah
lingkungan:
- Paperless
office
- Smart
city
- Efisiensi
logistik
- Optimasi
energi dengan AI
Namun di sisi lain, pertumbuhan digital yang tidak
terkendali justru:
- Meningkatkan
konsumsi energi
- Mempercepat
siklus konsumsi perangkat
- Memindahkan
emisi ke “belakang layar”
Inilah paradoks digital: efisien di permukaan, intensif
di infrastruktur.
Apakah Internet Bisa Menjadi Lebih Ramah Lingkungan?
Jawabannya: bisa, tapi tidak otomatis.
1. Green Data Center
Banyak perusahaan teknologi mulai:
- Menggunakan
energi terbarukan
- Meningkatkan
efisiensi pendinginan
- Mengoptimalkan
penggunaan server
Namun klaim “carbon neutral” perlu dilihat secara kritis,
terutama jika hanya mengandalkan offset.
2. Efisiensi Software & Digital Sobriety
Kode yang efisien, desain aplikasi yang ringan, dan
penggunaan data yang bijak dapat:
- Mengurangi
beban server
- Menekan
konsumsi energi
Konsep digital sobriety mulai diperkenalkan untuk
mendorong penggunaan teknologi yang cukup, bukan berlebihan.
3. Ekonomi Sirkular untuk Perangkat Digital
Memperpanjang usia perangkat, reparasi, dan daur ulang
menjadi kunci mengurangi jejak karbon produksi.
4. Regulasi & Transparansi
Pemerintah dan regulator mulai:
- Menuntut
pelaporan emisi digital
- Mengatur
standar energi data center
- Mengawasi
klaim green tech agar tidak menjadi greenwashing
Peran Pengguna dalam Mengurangi Jejak Karbon Digital
Meski skalanya individu, perilaku pengguna tetap berdampak:
- Mengurangi
resolusi streaming jika tidak perlu
- Memperpanjang
usia perangkat
- Menghapus
data yang tidak digunakan
- Mendukung
layanan digital yang transparan dan berkomitmen pada energi bersih
Kesadaran ini penting agar transisi digital tidak
bertabrakan dengan agenda keberlanjutan.
Kesimpulan: Digital Tidak Netral terhadap Lingkungan
Internet bukan entitas abstrak tanpa dampak. Ia ditopang
oleh infrastruktur fisik yang nyata dan berjejak karbon. Di tengah percepatan
AI, cloud, dan ekonomi digital, tantangan lingkungan teknologi digital akan
semakin relevan.
Masa depan bukan tentang menghentikan digitalisasi,
melainkan membangun digitalisasi yang bertanggung jawab, efisien, dan
berkelanjutan. Tanpa itu, dunia digital bisa menjadi bagian dari masalah
lingkungan — bukan solusi.
Referensi :
- International
Energy Agency (IEA) – Data Centres and Data Transmission Networks
https://www.iea.org/reports/data-centres-and-data-transmission-networks - European
Commission – Digitalisation and the Environment
https://environment.ec.europa.eu/topics/digitalisation_en - The
Shift Project – Lean ICT: Towards Digital Sobriety
https://theshiftproject.org/en/lean-ict/ - Harvard
Business Review – The Environmental Cost of the Digital Economy
https://hbr.org/2020/03/the-environmental-cost-of-the-digital-economy - United
Nations Environment Programme (UNEP) – E-waste and Digital
Sustainability
https://www.unep.org/resources/report/global-e-waste-monitor