Gen Z adalah generasi yang tumbuh di tengah krisis iklim.
Mereka bukan penyebab utama kerusakan lingkungan global, tetapi justru menjadi
generasi yang paling lama akan hidup dengan dampaknya. Kenaikan suhu,
cuaca ekstrem, krisis pangan, hingga ketidakstabilan ekonomi akibat perubahan
iklim bukan lagi isu masa depan—melainkan realitas saat ini.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tidak hanya
menuntut perubahan lewat wacana. Mereka menggunakan teknologi sebagai
alat: untuk melawan, mengorganisir, menciptakan solusi, dan menekan sistem yang
dianggap gagal. Di sinilah green tech bertransformasi dari sekadar
inovasi teknis menjadi alat perlawanan sosial.
Mengapa Gen Z Sangat Dekat dengan Green Tech?
Gen Z adalah digital native. Mereka:
- Terbiasa
dengan teknologi sejak kecil
- Memiliki
akses cepat ke informasi global
- Kritis
terhadap institusi dan narasi lama
- Lebih
peduli pada nilai keberlanjutan dan etika
Dalam berbagai survei global, Gen Z konsisten menunjukkan
tingkat kekhawatiran tinggi terhadap perubahan iklim dibanding generasi
sebelumnya. Bagi mereka, green tech bukan tren — melainkan alat bertahan
hidup di masa depan.
Green Tech sebagai Bentuk Perlawanan, Bukan Sekadar
Solusi
Bagi Gen Z, teknologi hijau tidak netral. Ia memiliki posisi
politik dan sosial.
Green tech digunakan untuk:
- Mengurangi
ketergantungan pada sistem energi lama
- Menantang
korporasi dan kebijakan yang merusak lingkungan
- Membuka
akses solusi berkelanjutan di tingkat komunitas
- Membangun
alternatif ekonomi yang lebih adil
Teknologi menjadi medium perlawanan yang lebih praktis
dibanding sekadar protes simbolik.
Bentuk Peran Gen Z dalam Green Tech
1. Energi Terbarukan Skala Individu & Komunitas
Gen Z mendorong adopsi energi terbarukan bukan hanya lewat
kebijakan, tetapi juga gaya hidup:
- Panel
surya rumahan
- Microgrid
komunitas
- Edukasi
energi bersih lewat media sosial
Bagi mereka, transisi energi bukan menunggu negara — tetapi
dimulai dari bawah.
2. Digital Activism & Climate Awareness
Media sosial menjadi alat utama Gen Z untuk:
- Menyebarkan
isu krisis iklim
- Mengkritik
greenwashing
- Mengorganisir
kampanye global
- Menekan
brand dan pemerintah secara terbuka
Teknologi digital memungkinkan suara anak muda lokal
terdengar secara global — sesuatu yang hampir mustahil di era sebelumnya.
3. Startup & Inovasi Green Tech
Banyak Gen Z terlibat langsung dalam:
- Startup
energi bersih
- Climate
tech berbasis AI & data
- Solusi
circular economy
- Platform
edukasi lingkungan
Motivasi mereka bukan hanya profit, tetapi impact.
Model bisnis hijau dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap ekonomi
eksploitatif.
4. Teknologi untuk Gaya Hidup Berkelanjutan
Aplikasi dan platform yang membantu:
- Menghitung
jejak karbon
- Mengelola
konsumsi energi
- Mendukung
konsumsi sadar
- Mengurangi
limbah
digunakan Gen Z sebagai alat kontrol diri sekaligus simbol
identitas nilai.
Konflik dengan Sistem Lama
Green Tech vs Status Quo
Upaya Gen Z sering berbenturan dengan:
- Industri
fosil yang mapan
- Kebijakan
lambat dan kompromistis
- Narasi
“pertumbuhan ekonomi dulu”
Green tech, dalam konteks ini, menjadi alat untuk mengganggu
kenyamanan sistem lama.
Risiko Greenwashing
Gen Z juga sangat kritis terhadap:
- Brand
yang mengklaim “hijau” tanpa perubahan nyata
- Teknologi
yang hanya memindahkan dampak lingkungan
- ESG
simbolik tanpa transparansi
Teknologi tidak otomatis dianggap solusi jika tidak disertai
etika dan kejujuran.
Tantangan yang Dihadapi Gen Z dalam Menggerakkan Green
Tech
Meskipun progresif, Gen Z tetap menghadapi hambatan:
- Akses
modal dan teknologi yang terbatas
- Ketimpangan
global
- Biaya
awal green tech yang masih tinggi
- Regulasi
yang belum berpihak
Tanpa dukungan struktural, idealisme teknologi bisa
terhambat realitas ekonomi dan politik.
Apakah Green Tech Cukup Tanpa Perubahan Sistem?
Sebagian besar Gen Z memahami bahwa:
- Teknologi
penting, tetapi tidak cukup
- Perubahan
perilaku dan sistem tetap krusial
- Green
tech harus berjalan seiring reformasi kebijakan
Bagi mereka, green tech adalah alat, bukan tujuan
akhir.
Masa Depan: Green Tech sebagai Identitas Generasi
Bagi Gen Z, teknologi hijau bukan sekadar pilihan teknis,
melainkan:
- Identitas
nilai
- Pernyataan
politik
- Bentuk
perlawanan terhadap krisis iklim
- Investasi
masa depan
Generasi ini menilai kemajuan bukan dari seberapa cepat
teknologi berkembang, tetapi untuk siapa dan dengan dampak apa teknologi
itu digunakan.
Kesimpulan: Ketika Teknologi Menjadi Bentuk Perlawanan
Green tech di tangan Gen Z bukan hanya soal inovasi,
melainkan alat untuk melawan krisis yang diwariskan. Mereka menggunakan
teknologi untuk mengedukasi, mengorganisir, menciptakan solusi, dan menekan
perubahan sistemik.
Jika generasi sebelumnya melihat teknologi sebagai alat
efisiensi, Gen Z melihatnya sebagai alat perlawanan dan harapan. Masa
depan green tech tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh
nilai generasi yang menggunakannya.
Referensi :
- United
Nations – Youth and Climate Action
https://www.un.org/en/climatechange/youth-climate-action
(Peran generasi muda dalam aksi iklim) - Pew
Research Center – Gen Z and Climate Change Concerns
https://www.pewresearch.org
(Sikap Gen Z terhadap krisis iklim) - World
Economic Forum – Why Gen Z Is Leading the Climate Movement
https://www.weforum.org
(Gen Z dan gerakan iklim global) - International
Energy Agency (IEA) – Clean Energy Transitions
https://www.iea.org
(Peran teknologi bersih dalam transisi energi) - Harvard
Business Review – How Gen Z Is Redefining Sustainability
https://hbr.org
(Gen Z, teknologi, dan keberlanjutan)