Metaverse sebagai Ruang Publik Digital Baru

Metaverse sebagai Ruang Publik Digital Baru

🗓️ Dipublikasikan: 04 Jan 2026 | 📂 Kategori: Metaverse

Dalam beberapa dekade terakhir, ruang publik mengalami transformasi besar. Dari alun-alun kota dan taman, bergeser ke media sosial dan platform digital. Kini, kemunculan Metaverse membuka babak baru: ruang publik digital yang imersif, di mana manusia tidak hanya berinteraksi lewat teks atau layar dua dimensi, tetapi hadir secara virtual dalam satu ruang yang sama.

Metaverse bukan sekadar teknologi hiburan. Ia berpotensi menjadi ruang sosial, ekonomi, politik, dan budaya baru—tempat bekerja, belajar, berdiskusi, hingga membangun identitas sosial. Pertanyaannya: apakah Metaverse benar-benar bisa berfungsi sebagai ruang publik digital yang sehat, inklusif, dan demokratis?

Apa Itu Ruang Publik Digital?

Secara klasik, ruang publik didefinisikan sebagai tempat di mana warga dapat berkumpul, berinteraksi, mengekspresikan opini, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Di era digital, fungsi ini sebagian besar diambil alih oleh media sosial seperti Twitter (X), Instagram, dan TikTok.

Namun, ruang publik digital saat ini memiliki keterbatasan:

Metaverse hadir dengan pendekatan berbeda: immersive, real-time, dan embodied interaction, yang membuat interaksi digital terasa lebih “hadir” dan sosial.

Metaverse sebagai Evolusi Ruang Publik

Metaverse menggabungkan beberapa teknologi utama:

Dengan kombinasi ini, Metaverse menciptakan ruang bersama (shared space) yang memungkinkan:

Inilah yang membuat Metaverse sering disebut sebagai “public square versi digital”.

Fungsi Ruang Publik di Metaverse

1. Interaksi Sosial & Komunitas

Di Metaverse, komunitas tidak lagi dibatasi oleh wilayah. Pengguna dapat:

Platform seperti VRChat, Horizon Worlds, dan Roblox telah menjadi contoh awal bagaimana ruang virtual bisa menjadi tempat bersosialisasi yang aktif.

2. Ekspresi Budaya & Identitas

Metaverse membuka ruang ekspresi baru:

Bagi generasi muda, terutama Gen Z, identitas digital sering kali sama pentingnya dengan identitas fisik. Metaverse memperluas cara manusia menampilkan diri dan berpartisipasi dalam budaya publik.

3. Partisipasi Publik & Diskursus

Dalam konteks ideal, Metaverse bisa:

Beberapa institusi bahkan mulai mengeksplorasi Metaverse untuk:

Tantangan: Siapa yang Mengontrol Ruang Publik Metaverse?

Meski menjanjikan, Metaverse sebagai ruang publik menghadapi tantangan serius.

1. Kepemilikan Platform

Sebagian besar Metaverse saat ini dimiliki oleh korporasi swasta. Ini memunculkan pertanyaan:

Tanpa tata kelola yang jelas, ruang publik digital berisiko menjadi ruang komersial tertutup.

2. Algoritma & Moderasi

Algoritma menentukan:

Dalam Metaverse, efek algoritma bisa lebih kuat karena interaksi bersifat imersif dan emosional. Risiko seperti manipulasi sosial, echo chamber, dan bias sistemik menjadi semakin kompleks.

3. Privasi & Keamanan Sosial

Metaverse mengumpulkan data yang jauh lebih sensitif:

Tanpa perlindungan yang kuat, ruang publik Metaverse berpotensi menjadi ruang pengawasan (surveillance space).

Metaverse: Ruang Publik atau Ruang Eksklusif?

Salah satu kritik terbesar adalah soal aksesibilitas. Untuk masuk ke Metaverse secara penuh, pengguna sering membutuhkan:

Jika tidak dikelola dengan baik, Metaverse bisa menciptakan kesenjangan digital baru, di mana hanya kelompok tertentu yang bisa berpartisipasi dalam ruang publik digital masa depan.

Menuju Ruang Publik Metaverse yang Sehat

Agar Metaverse benar-benar berfungsi sebagai ruang publik digital, beberapa prinsip perlu diperhatikan:

  1. Transparansi tata kelola
  2. Perlindungan privasi & data pengguna
  3. Akses yang inklusif & terjangkau
  4. Moderasi komunitas berbasis nilai, bukan semata profit
  5. Kolaborasi antara platform, pemerintah, dan masyarakat sipil

Metaverse tidak boleh hanya menjadi “mall virtual”, tetapi ruang hidup digital yang adil dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Metaverse berpotensi menjadi ruang publik digital baru yang melampaui media sosial konvensional. Dengan interaksi imersif, kehadiran real-time, dan komunitas global, ia membuka cara baru manusia bersosialisasi dan berpartisipasi dalam kehidupan publik.

Namun, masa depan Metaverse sebagai ruang publik tidak ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh nilai, regulasi, dan pilihan kolektif kita. Apakah ia akan menjadi ruang demokratis yang inklusif, atau sekadar ruang privat yang dikendalikan segelintir pihak—jawabannya masih sedang dibentuk hari ini.

Referensi :

  1. World Economic Forum – Defining the Metaverse
    https://www.weforum.org/agenda/2022/05/what-is-the-metaverse/
  2. Harvard Business Review – How the Metaverse Could Change the Way We Work
    https://hbr.org/2022/03/how-the-metaverse-could-change-the-way-we-work
  3. MIT Technology Review – The Metaverse Is Not a Place, It’s a Moment
    https://www.technologyreview.com/2021/10/19/1037542/metaverse-is-not-a-place/
  4. OECD – Public Spaces in the Digital Age
    https://www.oecd.org/digital/public-spaces-digital-age/
  5. Pew Research Center – The Metaverse in 2040
    https://www.pewresearch.org/internet/2022/06/30/the-metaverse-in-2040/
← Kembali ke Artikel