Teknologi hijau atau green technology sering
diposisikan sebagai jawaban utama atas krisis iklim global. Panel surya,
kendaraan listrik, smart grid, hingga AI untuk efisiensi energi dipromosikan
sebagai masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Namun di balik narasi optimistis tersebut, muncul pertanyaan
besar:
siapa sebenarnya yang bisa mengakses teknologi hijau?
Di banyak negara maju, green tech berkembang pesat dan
menjadi bagian dari gaya hidup modern. Sementara di sisi lain dunia, masih ada
miliaran orang yang bahkan belum memiliki akses listrik stabil. Di sinilah
muncul jurang antara potensi teknologi hijau dan realitas global yang
timpang.
Apa yang Dimaksud dengan Teknologi Hijau?
Teknologi hijau mencakup berbagai inovasi yang bertujuan:
- Mengurangi
emisi karbon
- Menghemat
sumber daya alam
- Meminimalkan
dampak lingkungan
- Mendukung
pembangunan berkelanjutan
Contohnya meliputi:
- Energi
terbarukan (matahari, angin, air)
- Kendaraan
listrik
- Bangunan
hemat energi
- Sistem
pertanian berkelanjutan
- Teknologi
efisiensi industri
- Digitalisasi
untuk pengurangan emisi
Secara teori, teknologi ini dirancang untuk kebaikan
bersama. Namun dalam praktiknya, akses terhadap green tech sangat
dipengaruhi oleh faktor ekonomi, geopolitik, dan sosial.
Ketimpangan Akses Teknologi Hijau di Dunia
Negara Maju vs Negara Berkembang
Negara-negara maju memiliki keunggulan besar:
- Modal investasi
yang kuat
- Infrastruktur
teknologi matang
- Akses
riset dan inovasi
- Subsidi
pemerintah untuk energi bersih
Sebaliknya, banyak negara berkembang menghadapi:
- Biaya
awal green tech yang tinggi
- Infrastruktur
listrik yang belum stabil
- Ketergantungan
pada energi fosil murah
- Keterbatasan
pendanaan dan teknologi
Akibatnya, transisi hijau sering berjalan tidak merata,
bahkan berisiko memperlebar kesenjangan global.
Biaya Awal yang Masih Mahal
Meski biaya teknologi hijau terus menurun, harga awal
tetap menjadi penghalang besar.
Panel surya, kendaraan listrik, dan sistem energi bersih:
- Membutuhkan
investasi awal yang signifikan
- Tidak
selalu terjangkau bagi rumah tangga berpenghasilan rendah
- Sulit
diadopsi tanpa subsidi atau skema pembiayaan
Tanpa dukungan kebijakan, green tech berpotensi menjadi hak
istimewa, bukan solusi universal.
Infrastruktur yang Tidak Merata
Teknologi hijau membutuhkan fondasi:
- Jaringan
listrik stabil
- Sistem
distribusi energi
- Akses
internet dan digitalisasi
Di wilayah pedesaan atau negara dengan infrastruktur
terbatas, adopsi teknologi hijau sering terhambat. Bahkan solusi energi
terbarukan lokal pun membutuhkan dukungan teknis dan regulasi.
Dimensi Keadilan Iklim (Climate Justice)
Krisis iklim tidak diciptakan secara merata — dan dampaknya
pun tidak dirasakan secara adil.
Negara berkembang:
- Berkontribusi
lebih kecil terhadap emisi historis
- Justru
paling rentan terhadap dampak perubahan iklim
Namun ironisnya, mereka juga:
- Memiliki
akses paling terbatas terhadap teknologi hijau
- Sering
menjadi pasar, bukan produsen teknologi
Inilah inti dari konsep climate justice:
transisi hijau seharusnya adil, inklusif, dan tidak meninggalkan kelompok
rentan.
Teknologi Hijau & Ketergantungan Global Baru
Rantai Pasok dan Geopolitik
Banyak teknologi hijau bergantung pada:
- Logam
langka (lithium, cobalt, nickel)
- Proses
manufaktur kompleks
- Rantai
pasok global yang terkonsentrasi
Hal ini memunculkan risiko:
- Ketergantungan
baru antar negara
- Eksploitasi
sumber daya di negara berkembang
- Dampak
lingkungan lokal akibat penambangan
Tanpa tata kelola yang adil, green tech bisa menciptakan ketimpangan
versi baru, bukan solusi berkelanjutan.
Apakah Teknologi Hijau Bisa Menjadi Lebih Inklusif?
Jawabannya bisa, jika didukung oleh pendekatan yang
tepat.
1. Transfer Teknologi & Kolaborasi Global
Negara maju memiliki peran penting dalam:
- Transfer
teknologi
- Pendanaan
hijau
- Kolaborasi
riset lintas negara
Pendekatan ini lebih berkelanjutan dibanding sekadar ekspor
produk mahal.
2. Solusi Lokal dan Terdesentralisasi
Teknologi hijau tidak harus selalu berskala besar.
Solusi lokal seperti:
- Microgrid
energi surya
- Sistem
air bersih berbasis komunitas
- Pertanian
berkelanjutan skala kecil
sering kali lebih relevan dan berdampak langsung.
3. Kebijakan Publik yang Pro-Rakyat
Subsidi, insentif pajak, dan regulasi inklusif dapat:
- Menurunkan
hambatan adopsi
- Mendorong
inovasi lokal
- Memastikan
green tech tidak hanya dinikmati kalangan atas
4. Edukasi & Literasi Teknologi
Akses bukan hanya soal harga, tapi juga pemahaman.
Literasi energi dan teknologi membantu masyarakat:
- Mengadopsi
solusi hijau dengan tepat
- Menghindari
ketergantungan berlebihan
- Mengambil
keputusan berkelanjutan
Masa Depan Teknologi Hijau: Solusi atau Ilusi?
Teknologi hijau memiliki potensi besar untuk membantu dunia
keluar dari krisis iklim. Namun tanpa pendekatan yang adil dan inklusif, ia
berisiko menjadi:
- Simbol
kemajuan semu
- Alat
greenwashing global
- Sumber
ketimpangan baru
Masa depan green tech tidak hanya ditentukan oleh inovasi,
tetapi oleh siapa yang diikutsertakan dalam transisi tersebut.
Kesimpulan: Akses Adalah Kunci Transisi Hijau
Teknologi hijau bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal
keadilan, akses, dan tata kelola global. Jika hanya dinikmati segelintir
pihak, maka transisi hijau akan gagal menjawab krisis iklim secara menyeluruh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi hijau tersedia,
melainkan apakah ia bisa diakses oleh semua yang membutuhkannya.
Referensi :
- United
Nations – Climate Justice & Technology Access
https://www.un.org/en/climatechange/climate-justice - World
Bank – Inclusive Green Growth
https://www.worldbank.org/en/topic/climatechange/overview - International
Energy Agency (IEA) – World Energy Outlook
https://www.iea.org/reports/world-energy-outlook - OECD
– Green Growth and Inequality
https://www.oecd.org/greengrowth/ - IPCC
– Climate Change Mitigation Report
https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg3/